A.
Pengertian Manusia
Secara factual, kegiatan pendidikan
merupakan kegiatan antar manusia, oleh manusia dan untuk manusia. Itulah
mengapa pembicaraan tentang pendidikan tidak dapat dilepaskan dari pembicaraan
tentang manusia. Dari beberapa pendapat tentang pendidikan yang dikemukakan
oleh para ahli pada umumnya sepakat, bahwa pendidikan itu diberikan atau
diselenggarakan dalam rangka mengembangkan seluruh potensi kemanusiaan kearah
yang positif. Dengan pendidikan, diharapkan manusia dapat meningkat dan
berkembang seluruh potensi atau bakat alamiahnya sehingga menjadi manusia yang
relative lebih baik, lebih berbudaya, dan lebih manusiawi. Agar kegiatan
pendidikan lebih terarah, sehingga nantinya dapat berdaya guna dan berhasil guna,
maka diperlukan pemahaman yang relatif utuh dan komprehensif tentang hakikat
manusia.
Berbicara tentang hakikat manusia membawa
kita berhadapan dengan pertanyaan sentral dan mendasar tentang manusia , yakni
apakah dan siapakah manusia itu ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut telah
banyak upaya dilakukan, namun rupa-rupanya jawaban-jawaban itu secara dialektis
melahirkan pertanyaan yang baru, sehingga upaya pemahaman manusia masih
merupakan pokok yang problematis. Dengan ungkapan lain, manusia masih merupakan misteri bagi dirinya
sendiri. Informasi penting sekitar kemisterian manusia dapat dilihat dalam
buku-buku yang berjudul manusia, sebuh misteri karya dari Louis Leahy (1989).
Dalam beberapa sumber pustaka dapat
ditemukan berbagai rumusan tentang manusia. Manusia adalah makhluk yang pandai
bertanya, bahkan ia mempertanyakan dirinya sendiri, keberadaannya dan dunia
seluruhnya. Binatang tidak mampu berbuat demikian dan itulah salah satu alasan
mengapa manusia menjulang tinggi di atas binatang. Manusia yang bertanya tahu
tentang keberadaanya dan ia pun menyadari juga dirinya sebagai penanya. Jadi
dia mencari dan dalam pencariannya ia mengandaikan bahwa ada sesuatu yang bisa
ditemukan, yaitu kemungkinan-kemungkinannya , termasuk kemampuannya mencari
makna kehidupannya (der Weij, 1991: 7-8 )
Drijarkara dalam bukunya filsafat manusia
(1969:7) mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang behadapan dengan dirinya
sendiri. Tidak hanya berhadapan, tapi juga menghadapi, dalam arti mirip dengan
menghadapi soal, menghadapi kesukaran dsb. Jadi ,dia melakukan, mengolah diri
sendiri, mengangkat dan merendahkan diri sendiri. Dia bisa bersatu dengan
dirinya sendiri, dia juga bisa mengambil jarak dengan dirinya sendiri. Bersama
dengan itu, manusia juga makhluk yang berada dan menghadapi alah kodrat. DIa
merupakan kesatuan dengan alam, tetapi juga berjarak dengannya. DIa bisa
memandangnya, bisa mempunyai pendapat-pendapat terhadapnya, bisa merubah dan
mengolahnya. Hewan juga berada dalam alam, tetapi tidak berhadapan dengan alam,
tidak mempunyai distansi. Perhatikan hewan dia tidak bisa memperbaiki alam,
tidak bisa menyerang alam dengan teknik. Lebih lanjut Drijarkara mengatakan
bahwa manusia itu selalu hidup dan merubah dirinya dalam arus situasi konkrit.
Dia tidak hanya berubah tetapi dirubah oleh situasi itu. Namun dalam
berubah-rubah itu dia tetap sendiri. Manusia selalu terlibat dalam situasi,
situasi itu berubah dan merubah manusia. Dengan ini dia menyejarah. Selain yang telah disebutkan tentang
pengertian manusia, data dirumuskan beberapa definisi lain tentang manusia
yaitu sebagai berikut: Homo Sapiens, Homo Faber, Homo Economicus, dan Homo
Religious. Dengan ungkapan yang berbeda kita mengenal definisi tentang manusia,
diantaranya, manusia sebagai: Animal rationale, Animal symbolicum, dan animal
Educandum.
Banyak definisi tentang manusia,membuktikan
bahwa manusia adalah makhluk multi dimensional, manusia memiliki banyak wajah.
Berdasarkan fakta tersebut, maka ada yang mencoba membuat polarisasi pemikiran
tentang manusia sebagai mana akan terlihat pada uraian di bawah ini, yakni pola
pemikiran biologis, pola pemikiran psikologis, pola pemikiran social budaya,
dan pola pemikiran teologis (Basis Edisi Oktober 1980:371-375). Menurut penulis
, pola pemikiran yang keempat itu bukan pola pemikiran teologis melainkan pola
pemikiran religious. Hal ini didasarkan pada rumusan pengertian manusia sebagai
Homo Religious. Sedangkan pola pemikiran biologis, Psikologis, dan social
budaya masih dipertahankan. Berikut penjabaran tentang pola-pola pemikiran
manusia:
- Manusia menurut pola pemikiran biologis
Menurut pola pemikiran ini, manusia dan
kemampuan kreatifnya dikaji dari struktur fisiologisnya . Salah satu tokoh
dalam pola ini adalah Portmann yang berpendapat bahwa kehidupan manusia merupakan
sesuatu yang bersifat sui generis meskipun terdapat kesamaan-kesamaan tertentu
dengan kehidupan hewan atau binatang. Dia menekankan aktivitas manusia yang
khas, yakni bahasanya, posisi vertical tubuhnya, dan ritme pertumbuhannya.
Semua sifat ini timbul dari kerja sama antara proses keturunan dan proses
social budaya.
- Manusia menurut pola psikologis
Kelebihan pola ini adalah perpaduan antara
metode-metode psikologi eksperimental dan suatu pendekatan filosofis tertentu,
misalnya fenomenologi tokoh-tokoh yang berpengaruh besar pada pola ini antara
lain Ludwig Binswanger, Erwin Straus dan Erich Fromm. Binswanger mengembangkan
psikoanalisis eksistensial yang bertitik tolak dari psikoanalisisnya Freud.
Dari pandangan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Freud dengan
psikoanalisisnya lebih menekankan factor internal manusia, sementara pandangan
behaviorisme lebih menekankan factor eksternal. Sedangkan pandangan psikologi humanistic
lebih menekankan kemampuan manusia untuk mengarahkan dirinya, baik karena
pengaruh factor internal maupun eksternal.
- Manusia menurut pola pemikiran social-budaya
Manusia menurut pola pemikiran ini tampil
dalam dimensi social dan kebudayaanya, dalam hubungannya dengan kemampuannya
untuk membentuk sejarah. Erich Rothacker berupaya memahami kebudayaan setiap
bangsa melalui suatu proses yang dinamakan reduksi pada jiwa-jiwa nasional dan
melalui mitos-mitos selain itu tokoh lain dalam pola ini adalah Ernest
Cassirer, dia merumuskan manusia sebagai Animal Symbolicum, makhluk yang pandai
menggunakan Symbol.
- Manusia menurut pola pemikiran Religius
Pola pemikiran ini bertolak dari pandangan
manusia sebagai Homo Religiosus. Salah satu tokohnya adalah Mircea Eliade. Menurut
Eliade, Homo Rligiosus adalah tipe manusia yang hidup dalam suatu alam yang sacral,
penuh dengan nilai-nilai Relijius dan dapat menikmati sakralitas yang ada dan
tampak pada alam semesta , alam materi , alam tumbuh-tumbuhan , dan manusia.
0 comments:
Post a Comment