Pages

Labels

Thursday, December 5, 2013

URGENSI MEMAHAMI HAKIKAT MANUSIA



A.      Pengertian Manusia
Secara factual, kegiatan pendidikan merupakan kegiatan antar manusia, oleh manusia dan untuk manusia. Itulah mengapa pembicaraan tentang pendidikan tidak dapat dilepaskan dari pembicaraan tentang manusia. Dari beberapa pendapat tentang pendidikan yang dikemukakan oleh para ahli pada umumnya sepakat, bahwa pendidikan itu diberikan atau diselenggarakan dalam rangka mengembangkan seluruh potensi kemanusiaan kearah yang positif. Dengan pendidikan, diharapkan manusia dapat meningkat dan berkembang seluruh potensi atau bakat alamiahnya sehingga menjadi manusia yang relative lebih baik, lebih berbudaya, dan lebih manusiawi. Agar kegiatan pendidikan lebih terarah, sehingga nantinya dapat berdaya guna dan berhasil guna, maka diperlukan pemahaman yang relatif utuh dan komprehensif tentang hakikat manusia.
Berbicara tentang hakikat manusia membawa kita berhadapan dengan pertanyaan sentral dan mendasar tentang manusia , yakni apakah dan siapakah manusia itu ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut telah banyak upaya dilakukan, namun rupa-rupanya jawaban-jawaban itu secara dialektis melahirkan pertanyaan yang baru, sehingga upaya pemahaman manusia masih merupakan pokok yang problematis. Dengan ungkapan lain,  manusia masih merupakan misteri bagi dirinya sendiri. Informasi penting sekitar kemisterian manusia dapat dilihat dalam buku-buku yang berjudul manusia, sebuh misteri karya dari Louis Leahy (1989).
Dalam beberapa sumber pustaka dapat ditemukan berbagai rumusan tentang manusia. Manusia adalah makhluk yang pandai bertanya, bahkan ia mempertanyakan dirinya sendiri, keberadaannya dan dunia seluruhnya. Binatang tidak mampu berbuat demikian dan itulah salah satu alasan mengapa manusia menjulang tinggi di atas binatang. Manusia yang bertanya tahu tentang keberadaanya dan ia pun menyadari juga dirinya sebagai penanya. Jadi dia mencari dan dalam pencariannya ia mengandaikan bahwa ada sesuatu yang bisa ditemukan, yaitu kemungkinan-kemungkinannya , termasuk kemampuannya mencari makna kehidupannya (der Weij, 1991: 7-8 )
Drijarkara dalam bukunya filsafat manusia (1969:7) mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang behadapan dengan dirinya sendiri. Tidak hanya berhadapan, tapi juga menghadapi, dalam arti mirip dengan menghadapi soal, menghadapi kesukaran dsb. Jadi ,dia melakukan, mengolah diri sendiri, mengangkat dan merendahkan diri sendiri. Dia bisa bersatu dengan dirinya sendiri, dia juga bisa mengambil jarak dengan dirinya sendiri. Bersama dengan itu, manusia juga makhluk yang berada dan menghadapi alah kodrat. DIa merupakan kesatuan dengan alam, tetapi juga berjarak dengannya. DIa bisa memandangnya, bisa mempunyai pendapat-pendapat terhadapnya, bisa merubah dan mengolahnya. Hewan juga berada dalam alam, tetapi tidak berhadapan dengan alam, tidak mempunyai distansi. Perhatikan hewan dia tidak bisa memperbaiki alam, tidak bisa menyerang alam dengan teknik. Lebih lanjut Drijarkara mengatakan bahwa manusia itu selalu hidup dan merubah dirinya dalam arus situasi konkrit. Dia tidak hanya berubah tetapi dirubah oleh situasi itu. Namun dalam berubah-rubah itu dia tetap sendiri. Manusia selalu terlibat dalam situasi, situasi itu berubah dan merubah manusia. Dengan ini dia menyejarah.  Selain yang telah disebutkan tentang pengertian manusia, data dirumuskan beberapa definisi lain tentang manusia yaitu sebagai berikut: Homo Sapiens, Homo Faber, Homo Economicus, dan Homo Religious. Dengan ungkapan yang berbeda kita mengenal definisi tentang manusia, diantaranya, manusia sebagai: Animal rationale, Animal symbolicum, dan animal Educandum.
Banyak definisi tentang manusia,membuktikan bahwa manusia adalah makhluk multi dimensional, manusia memiliki banyak wajah. Berdasarkan fakta tersebut, maka ada yang mencoba membuat polarisasi pemikiran tentang manusia sebagai mana akan terlihat pada uraian di bawah ini, yakni pola pemikiran biologis, pola pemikiran psikologis, pola pemikiran social budaya, dan pola pemikiran teologis (Basis Edisi Oktober 1980:371-375). Menurut penulis , pola pemikiran yang keempat itu bukan pola pemikiran teologis melainkan pola pemikiran religious. Hal ini didasarkan pada rumusan pengertian manusia sebagai Homo Religious. Sedangkan pola pemikiran biologis, Psikologis, dan social budaya masih dipertahankan. Berikut penjabaran tentang pola-pola pemikiran manusia:

  1. Manusia menurut pola pemikiran biologis
Menurut pola pemikiran ini, manusia dan kemampuan kreatifnya dikaji dari struktur fisiologisnya . Salah satu tokoh dalam pola ini adalah Portmann yang berpendapat bahwa kehidupan manusia merupakan sesuatu yang bersifat sui generis meskipun terdapat kesamaan-kesamaan tertentu dengan kehidupan hewan atau binatang. Dia menekankan aktivitas manusia yang khas, yakni bahasanya, posisi vertical tubuhnya, dan ritme pertumbuhannya. Semua sifat ini timbul dari kerja sama antara proses keturunan dan proses social budaya.

  1. Manusia menurut pola psikologis
Kelebihan pola ini adalah perpaduan antara metode-metode psikologi eksperimental dan suatu pendekatan filosofis tertentu, misalnya fenomenologi tokoh-tokoh yang berpengaruh besar pada pola ini antara lain Ludwig Binswanger, Erwin Straus dan Erich Fromm. Binswanger mengembangkan psikoanalisis eksistensial yang bertitik tolak dari psikoanalisisnya Freud. Dari pandangan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Freud dengan psikoanalisisnya lebih menekankan factor internal manusia, sementara pandangan behaviorisme lebih menekankan factor eksternal. Sedangkan pandangan psikologi humanistic lebih menekankan kemampuan manusia untuk mengarahkan dirinya, baik karena pengaruh factor internal maupun eksternal.

  1. Manusia menurut pola pemikiran social-budaya
Manusia menurut pola pemikiran ini tampil dalam dimensi social dan kebudayaanya, dalam hubungannya dengan kemampuannya untuk membentuk sejarah. Erich Rothacker berupaya memahami kebudayaan setiap bangsa melalui suatu proses yang dinamakan reduksi pada jiwa-jiwa nasional dan melalui mitos-mitos selain itu tokoh lain dalam pola ini adalah Ernest Cassirer, dia merumuskan manusia sebagai Animal Symbolicum, makhluk yang pandai menggunakan Symbol.

  1. Manusia menurut pola pemikiran Religius
Pola pemikiran ini bertolak dari pandangan manusia sebagai Homo Religiosus. Salah satu tokohnya adalah Mircea Eliade. Menurut Eliade, Homo Rligiosus adalah tipe manusia yang hidup dalam suatu alam yang sacral, penuh dengan nilai-nilai Relijius dan dapat menikmati sakralitas yang ada dan tampak pada alam semesta , alam materi , alam tumbuh-tumbuhan , dan manusia.

0 comments:

Post a Comment